JADWAL SEKOLAH DAN LES SALMA SISWI KELAS 5 SD
Senin : 6.30 - 12.00 belajar di sekolah
12.30 – 13.30 les pelajaran sekolah
16.00 – 18.00 les lukis
Selasa : 6.30 – 12.00 belajar di sekolah
12.30 – 13.30 les pelajaran sekolah
19.00 – 19.30 mengaji
Rabu : 6.30 – 12.00 belajar di sekolah
13.00 – 15.00 les komputer di sekolah
17.00 – 18.00 les pelajaran sekolah
19.00 – 19.30 mengaji
Kamis : 6.30 – 12.00 belajar di sekolah
13.00 – 15.00 pendalaman agama
Jumat : 6.30 – 10.30 belajar di sekolah
11.00 – 12.00 les pelajaran sekolah
15.00 – 17.00 les renang
Sabtu 6.30 – 10.00 belajar di sekolah
Bagaimana dengan jadwal putra putri bapak dan ibu ? Tak jauh berbedakah ? Atau bahkan jauh lebih padat lagi ?
Ya, itulah yang terjadi di dunia pendidikan sekarang, terutama di kota-kota besar. Sekolah saja tidak cukup. Para siswa harus didukung dengan berbagai macam les.
Seringkali terbersit rasa bersalah atas kepadatan jadwal kegiatan yang harus mereka lakukan setiap hari. Tapi, rasa itu akan segera dibuang jauh-jauh, karena memang kadang-kadang anak-anak sendiri yang minta ikut les. Mereka merasa TAKUT kalah bersaing dengan teman-temannya kalau tidak mengikuti les. Suasana ini, ditambah pula dengan rasa “persaingan dan gengsi“ diantara orang tua (biasanya para ibu). Akhirnya......terciptalah hari-hari yang sangat SIBUK bagi anak-anak dan orang tua..
- Anak-anak SIBUK mengikuti pelajaran di sekolah dan tempat-tempat les (les bahasa Inggris, les pelajaran sekolah,lLes melukis, les menari, dll)
- Bapak-bapak SIBUK mencari uang untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga yang jumlahnya jauh lebih besar dari zaman dulu saat les-les masih belum populer.
- Ibu-ibu SIBUK mengantar jemput anak-anaknya, dari rumah ke sekolah, disambung lagi dengan mengantar jemput ke tempat les. Kadang terdengar candaan para ibu saat mengantar jemput anak-anak mereka,“ Wah, kalau kita jadi ojeg, udah dapat duit banyak nih hari ini.“
INGIN mengadakan PERUBAHAN ?
Tampaknya itu hal yang tidak masuk akal, jika kita bergerak sendirian.
Nah, berangkat dari kondisi seperti ini, Success Fun English Class mencoba ”mengisi” sela-sela waktu mereka dengan kegiatan yang fun fun fun, dengan harapan mereka mendapat “energi“ baru setelah mengikuti kegiatan yang menyenangkan, dan siap belajar lagi“
Salah satu kegiatan yang diadakan Success Fun English Class pada tanggal 15 dan 16 Desember 2011 lalu :
MELUKIS DI ATAS KIPAS DAN T-SHIRT
Dengan biaya Rp. 15.000,- siswa dapat mengikuti acara melukis di atas kipas yang dibimbing oleh seorang guru lukis yang sengaja diundang ke tempat les. Agar tidak merepotkan orang tua, segala perlengkapan telah disediakan Mereka tidak perlu membawa apapun. Mereka hanya diminta untuk memakai pakaian sehari-hari, yang tidak menjadi masalah kalau terkena cat.
Pada awal pengumuman disampaikan, berbagai respon dilontarkan anak-anak. Sebagian besar siswa langsung bersorak gembira. Tapi, ada juga beberapa siswa yang tampak ketakutan dan berkata “Miss, saya ga bisa melukis.....“. Ada juga siswa yang langsung menangis dan berkata,“Aku ga mau lomba....aku ga pernah dapat piala.“
Kalau mau jujur, kita harus mengakui bahwa jiwa anak seperti ini adalah “hasil produk“ kita semua. Kita yang sangat bertanggung jawab atas rasa ketakutan mereka. Sadar atau tidak, banyak ibu-ibu atau guru-guru yang kadang-kadang mengikutsertakan anak / siswanya dalam satu kegiatan dan MENUNTUT prestasi besar dari mereka. Menuntut mereka mendapat piala, dll.
Menurut saya, hal itu sangat mempengaruhi kejiwaan mereka.
Saya pernah mengalami kesulitan dan sedikit rasa frustasi saat menghadapi seorang siswa SMP kelas 3 yang mengalami situasi “emosional“ mendalam. Saya tahu dia sangat marah dan berusaha keras agar air matanya tidak keluar saat menceritakan perkataan gurunya di depan kelas. Entah dengan maksud dan tujuan apa, sang guru berkata, bahwa para siswa tidak mendapat juara dalam banyak lomba yang mereka ikuti. Anak ini ingin menyampaikan bahwa bagaimana mereka dapat mengikuti lomba dengan baik, tanpa adanya bimbingan persiapan dari para guru ? Sementara, berdasarkan cerita para peserta lomba dari sekolah lain, dia tahu...siwa lain mendapat bimbingan intensif menjelang lomba (terutama siswa-siswa dari sekolah swasta). Tapi jawaban itu tidak ia keluarkan, karena ia sudah “dikondisikan“ untuk tidak menjawab saat guru berbicara.
Sejak kejadian itu, saya tahu, ada rasa “tidak nyaman“ dalam hatinya saat berangkat mengikuti lomba. Dia takut kecewa jika tidak menang, dan gurunya akan menegur lagi.
Berdasarkan kondisi seperti itu, Success Fun English Class tidak lagi mengadakan acara LOMBA. Semua acara diawali dengan kata “Have Fun Together”. Tanpa persaingan, tanpa ketakutan dimarahi mama / guru, dan tanpa beban HARUS SEMPURNA. Yang penting, HAVE FUN !
Tanpa diduga, dengan tema “Yang penting have fun”, ternyata banyak juga hasil karya anak-anak itu yang menurut saya sangat “special” bagus. Dan SEMUA anak, termasuk orang tua dan guru pembimbing, merasa sangat puas !
Berikut ini laporan gambar dari acara MELUKIS DI ATAS KIPAS DAN T-SHIRT
Staff pengajar SUCCESS Fun English Class bergotong royong mempersiapkan acara melukis bersama. Suasana dibuat nyaman dan fun, supaya anak-anak tidak tegang
Anak-anak sedang bersiap mengikuti acara melukis bersama di atas kipas. Mereka sudah berdatangan dan duduk rapi 30 menit sebelum acara dimulai
Para siswa kelas 1 dan 2 sekolah dasar ini tertawa geli dan bingung, saat dibagikan kipas “sate“. Kipas seperti ini sudah jarang tampak di perkotaan. Kipas angin listrik lebih populer digunakan, bahkan oleh tukang sate sekalipun.
Seorang siswi taman kanak-kanak, Salwa, mulai melukis sendiri. Dia tak banyak bicara juga tidak minta kipas bagiannya ke guru pembimbing. Hasilnya….? Sebuah gambar mobil lengkap dengan roda dan kacanya…..di atas kertas koran, alas meja (sungguh kreatif !)
Surprise bagi kami semua. Di bawah bimbingan guru lukis yang dengan sabar membantu para siswa mengembangkan imajinasi anak-anak, dihasilkan karya-karya lukis yang sangat hidup. Mereka pun tampak puas dengan hasil karyanya.
Tak sabar hanya melihat anak-anak melukis, kedua asisten guru ini pun, ikut melukis....walau terpaksa harus mendapat giliran terakhir. Sebagian mendapat kesempatan melukis di atas t-shirt
Seorang guru SUCCESS, ternyata menyimpan bakat terpendam dan diam-diam ikut melukis bersama anak-anak. Hasilnya, hmmmm....bagus juga...
Munculnya ide melukis di atas kipas, adalah saat saya berkunjung ke sebuah sekolah luar biasa untuk anak-anak berkebutuhan khusus di daerah Limbangan Garut. Di sekolah itu, salah satu prakarya yang diajarkan adalah membuat kerajinan dari anyaman bambu, salah satunya kipas. Memang kebetulan daerah itu terkenal sebagai penghasil kerajinan anyaman. Pimpinan sekolah itu memiliki harapan, anak-anak berkebutuhan khusus dapat menghasilkan sesuatu yang berguna untuk kehidupannya kelak. Beberapa kali mereka mendapat pesanan keranjinan dalam jumlah banyak dari kota besar.
Setelah mencoba menuangkan ide mereka di atas sebuah kipas, kedua siswa ini tampak puas memperlihatkan hasil karya mereka
Para guru berpose setelah semua siswa pulang membawa kipas-kipas hasil karya mereka. Lelah, namun bisa tersenyum lebar, karena semua siswa pulang dengan gembira. Sukses!!!
HARI KEDUA
Seluruh peserta lukis berjumlah sekitar 70 orang ( dari total 180 siswa les SUCCESS Fun English Class). Jumlah itu dibagi menjadi 4 sesi, berdasarkan kelompok lesnya.
Hari kedua, giliran siswa kelas 4, 5 dan 6 SD. Juga beberapa siswa SMP
Para siswa tampak serius mengerjakan karya mereka. TANPA beban harus mendapat piala. FUN FUN FUN
Hasil karya para siswa, setelah selama 1.5 jam “bersenang-senang“ dengan kuas di tangan, genangan cat yang BOLEH tumpah, KEBEBASAN memilih warna, KEBEBASAN menggerakkan kuas di atas kipas untuk membentuk gambar apapun, dan TANPA tekanan harus menang, karena memang ini bukan acara lomba, di bawah bimbingan guru-guru yang ingin memberikan suasana menyenangkan untuk mereka
Sampai jumpa lagi di acara menyenangkan yang lainnya ya….
Gunakan energi “menyenangkan” ini untuk menambah semangat kalian saat belajar.
P.S. Saya menerima saran dan ide dari rekan rekan tentang berbagai acara fun time yang sederhana untuk dilakukan bersama siswa siswa sekolah dasar