Belajar dari seorang pengemudi taksi
“Di
Jakarta macet banget ! Males mau kemana-mana.”
Pernahkah
anda mendengar keluhan semacam itu ? Saya rasa hampir semua orang setuju dengan
keluhan mengenai kemacetan kota Jakarta.
Sudah 15 tahun saya tinggal di kota ini.
Sampai sekarang…tetap saya tidak berani bawa kendaraan, motor atau pun mobil dengan jarak lebih dari
2-3 km. Saya lebih memilih naik angkot, ojek
atau taksi. Aman. Kalaupun sampai ada “senggol-senggolan” antara ojek, angkot,
kopaja dll saat macet, saya tinggal “duduk manis” menonton para supir itu adu
jotos.
Pokoknya
saya yakin, Jakarta itu sumber kemacetan, keributan antara pengemudi, kekacauan
dan ugal ugalan para pengemudi dll. Tapi, sekarang saya terpaksa berpikir lain.
Kemarin sore, saya menggunakan jasa taksi “Cipaganti”. Sepanjang perjalanan
dari stasiun Gambir menuju Kalideres, saya terheran-heran mendengar obrolan
bapak pengemudi taksi dengan suami saya.
Bapak pengemudi itu kira-kira sudah berumur hampir 50 tahun.
Beliau
tampak tenang mengemudi. Tak ada kesan terburu-buru, tapi kendaraan melaju
cukup cepat. Tak ada keraguan memilih jalan mana yang akan diambil.Beliau
tampak hapal dengan jalan-jalan di Jakarta. Kami pun menikmati perjalanan dengan
nyaman.Bahkan, anak-anak yang biasanya rewel kalau berada dalam taksi, tampak
duduk tenang.
“Bapak
sudah lama bawa taksi ?”
suami saya membuka obrolan.
“Belum
pak, baru. Tadinya saya bawa kendaraan travel Jakarta Bandung.” Kata bapak pengemudi dengan
tenang.
“Lho, bukannya lebih enak bawa travel pak ? Nggak pusing
dengan kemacetan jalan di Jakarta?” tanya suami saya penasaran.
Tak
disangka, beliau menjawab dengan panjang lebar,”Ah, nggak juga pak.
Justru saya senang bawa mobil di Jakarta. Orang-orangnya tertib. Nggak seperti
di daerah lain, saling melotot. Di Jakarta ini orang mau kasih jalan. Saya sudah satu setengah tahun pak bawa
taksi di Jakarta, tapi rasanya baru seperti kemarin…. .”
Hah ???? Hebat….hebat….hebat….. Saya tersenyum
sendiri. Betapa nikmatnya hidup bapak itu. Menikmati perjalanan di Jakarta dan
mendapatkan uang untuk dibawa pulang ke keluarganya di kampung.Sementara saya
dan suami termasuk orang-orang yang sangat bĂȘte dengan jalanan di Jakarta.
Kalau tak penting betul, kami jarng pergi ke tempat yang jauh karena males
macet.
Menjelang sampai rumah, kami tak banyak bicara lagi.
Bapak pengemudi pun tampak menikmati sebuah lagu Sunda yang terdengar dari DVD
yang dipasangnya.
Hmmm…….kira-kira ilmu apa yang bisa saya ambil dari
bapak yang hebat ini ya ?
Mungkin….saya harus melihat kota Jakarta ini, dari
sudut dimana bapak itu berdiri. Hehe….supaya saya bisa menikmati hidup di kota
Jakarta ini sama nikmatnya dengan bapak pengemudi yang berbahagia itu……. Can I ???