Jumat, 04 Mei 2012



Belajar dari seorang pengemudi taksi

Di Jakarta macet banget ! Males mau kemana-mana.”

Pernahkah anda mendengar keluhan semacam itu ? Saya rasa hampir semua orang setuju dengan keluhan mengenai kemacetan kota Jakarta.
 Sudah 15 tahun saya tinggal di kota ini. Sampai sekarang…tetap saya tidak berani bawa kendaraan,  motor atau pun mobil dengan jarak lebih dari 2-3 km.  Saya lebih memilih naik angkot, ojek atau taksi. Aman. Kalaupun sampai ada “senggol-senggolan” antara ojek, angkot, kopaja dll saat macet, saya tinggal “duduk manis” menonton para supir itu adu jotos.
Pokoknya saya yakin, Jakarta itu sumber kemacetan, keributan antara pengemudi, kekacauan dan ugal ugalan para pengemudi dll.  Tapi, sekarang saya terpaksa berpikir lain. Kemarin sore, saya menggunakan jasa taksi “Cipaganti”. Sepanjang perjalanan dari stasiun Gambir menuju Kalideres, saya terheran-heran mendengar obrolan bapak pengemudi taksi  dengan suami saya. Bapak pengemudi itu kira-kira sudah berumur hampir 50 tahun.
Beliau tampak tenang mengemudi. Tak ada kesan terburu-buru, tapi kendaraan melaju cukup cepat. Tak ada keraguan memilih jalan mana yang akan diambil.Beliau tampak hapal dengan jalan-jalan di Jakarta. Kami pun menikmati perjalanan dengan nyaman.Bahkan, anak-anak yang biasanya rewel kalau berada dalam taksi, tampak duduk tenang.

Bapak sudah lama bawa taksi ?” suami saya membuka obrolan.

Belum pak, baru. Tadinya saya bawa kendaraan travel Jakarta Bandung.” Kata bapak pengemudi dengan tenang.

“Lho, bukannya lebih enak bawa travel pak ? Nggak pusing dengan kemacetan jalan di Jakarta?” tanya suami saya penasaran.

Tak disangka, beliau menjawab dengan panjang lebar,”Ah, nggak juga pak. Justru saya senang bawa mobil di Jakarta. Orang-orangnya tertib. Nggak seperti di daerah lain, saling melotot. Di Jakarta ini orang mau kasih jalan. Saya sudah satu setengah tahun pak bawa taksi di Jakarta, tapi rasanya baru seperti kemarin…. .

Hah ???? Hebat….hebat….hebat….. Saya tersenyum sendiri. Betapa nikmatnya hidup bapak itu. Menikmati perjalanan di Jakarta dan mendapatkan uang untuk dibawa pulang ke keluarganya di kampung.Sementara saya dan suami termasuk orang-orang yang sangat bĂȘte dengan jalanan di Jakarta. Kalau tak penting betul, kami jarng pergi ke tempat yang jauh karena males macet.
Menjelang sampai rumah, kami tak banyak bicara lagi. Bapak pengemudi pun tampak menikmati sebuah lagu Sunda yang terdengar dari DVD yang dipasangnya.
Hmmm…….kira-kira ilmu apa yang bisa saya ambil dari bapak yang hebat ini ya ?
Mungkin….saya harus melihat kota Jakarta ini, dari sudut dimana bapak itu berdiri. Hehe….supaya saya bisa menikmati hidup di kota Jakarta ini sama nikmatnya dengan bapak pengemudi yang berbahagia itu……. Can I  ???