Jumat, 04 Mei 2012



Belajar dari seorang pengemudi taksi

Di Jakarta macet banget ! Males mau kemana-mana.”

Pernahkah anda mendengar keluhan semacam itu ? Saya rasa hampir semua orang setuju dengan keluhan mengenai kemacetan kota Jakarta.
 Sudah 15 tahun saya tinggal di kota ini. Sampai sekarang…tetap saya tidak berani bawa kendaraan,  motor atau pun mobil dengan jarak lebih dari 2-3 km.  Saya lebih memilih naik angkot, ojek atau taksi. Aman. Kalaupun sampai ada “senggol-senggolan” antara ojek, angkot, kopaja dll saat macet, saya tinggal “duduk manis” menonton para supir itu adu jotos.
Pokoknya saya yakin, Jakarta itu sumber kemacetan, keributan antara pengemudi, kekacauan dan ugal ugalan para pengemudi dll.  Tapi, sekarang saya terpaksa berpikir lain. Kemarin sore, saya menggunakan jasa taksi “Cipaganti”. Sepanjang perjalanan dari stasiun Gambir menuju Kalideres, saya terheran-heran mendengar obrolan bapak pengemudi taksi  dengan suami saya. Bapak pengemudi itu kira-kira sudah berumur hampir 50 tahun.
Beliau tampak tenang mengemudi. Tak ada kesan terburu-buru, tapi kendaraan melaju cukup cepat. Tak ada keraguan memilih jalan mana yang akan diambil.Beliau tampak hapal dengan jalan-jalan di Jakarta. Kami pun menikmati perjalanan dengan nyaman.Bahkan, anak-anak yang biasanya rewel kalau berada dalam taksi, tampak duduk tenang.

Bapak sudah lama bawa taksi ?” suami saya membuka obrolan.

Belum pak, baru. Tadinya saya bawa kendaraan travel Jakarta Bandung.” Kata bapak pengemudi dengan tenang.

“Lho, bukannya lebih enak bawa travel pak ? Nggak pusing dengan kemacetan jalan di Jakarta?” tanya suami saya penasaran.

Tak disangka, beliau menjawab dengan panjang lebar,”Ah, nggak juga pak. Justru saya senang bawa mobil di Jakarta. Orang-orangnya tertib. Nggak seperti di daerah lain, saling melotot. Di Jakarta ini orang mau kasih jalan. Saya sudah satu setengah tahun pak bawa taksi di Jakarta, tapi rasanya baru seperti kemarin…. .

Hah ???? Hebat….hebat….hebat….. Saya tersenyum sendiri. Betapa nikmatnya hidup bapak itu. Menikmati perjalanan di Jakarta dan mendapatkan uang untuk dibawa pulang ke keluarganya di kampung.Sementara saya dan suami termasuk orang-orang yang sangat bĂȘte dengan jalanan di Jakarta. Kalau tak penting betul, kami jarng pergi ke tempat yang jauh karena males macet.
Menjelang sampai rumah, kami tak banyak bicara lagi. Bapak pengemudi pun tampak menikmati sebuah lagu Sunda yang terdengar dari DVD yang dipasangnya.
Hmmm…….kira-kira ilmu apa yang bisa saya ambil dari bapak yang hebat ini ya ?
Mungkin….saya harus melihat kota Jakarta ini, dari sudut dimana bapak itu berdiri. Hehe….supaya saya bisa menikmati hidup di kota Jakarta ini sama nikmatnya dengan bapak pengemudi yang berbahagia itu……. Can I  ???

Minggu, 25 Maret 2012

BERBURU BUKU MURAH DI PAMERAN BUKU ISLAM


BERBURU BUKU MURAH DI PAMERAN BUKU ISLAM

Sudah 2 tahun terakhir ini, saya tak pernah melewatkan kesempatan untuk menghadiri pameran buku Islam (ISLAMIC BOOK FAIR) yang diselenggarakan di Istora Senayan Jakarta.
Pameran buku Islam tahun ini diselenggarakan sejak tanggal 9-18 Maret 2012. Alhamdulillah, saya bisa hadir kesana, meskipun hanya pada hari terakhir.
Jujur, tujuan saya kesana adalah HANYA untuk membeli buku-buku yang DI OBRAL.  Hobi membaca yang dimiliki ketiga anak saya, membuat saya harus aktif berburu buku-buku obral (bahkan, buku bekas juga lho…).
Sampai di tempat pameran, saya tak mau membuang waktu dan langsung masuk ke salah satu stan yang dipenuhi tulisan besar-besar :
Discount 10 %
Discount 20 %
Discount 60 %
Saya pun langsung mengarah pada sebuah meja yang berisi banyak buku, di bawah tulisan “Discount 60%”.  Beberapa buku dengan judul yang menarik berhasil saya dapatkan di meja itu.
Kemudian saya pindah ke sebuah keranjang besar berisi ratusan buku. Di atasnya tertulis :
Obral Rp. 9.000 – Rp. 15.000
Sayang saya hanya mendapat beberapa buku bagus disana. Yang lainnya, hanya novel-novel yang kurang diminati anak-anak saya. Setelah puas “bongkar-bongkar” di stan itu, saya pun membayar semua buku pilihan saya dan memutuskan untuk segera beralih ke stan lain.  Hmmm….murah banget !

Belum sempat saya beralih dari stan tadi, sebuah suara promosi terdengar dari stan di dekatnya,
“Lima ribu saja….lima ribu saja…ayo bu…pak…”
Wah, ini dia yang saya cari. Saya pun segera bergabung berdesakan dengan para pengunjung lain, dan memilih semua buku-buku yang menarik dari stan itu. Lima ribu rupiah…tak usah berpikir panjang untuk membeli buku-buku baru (bukan bekas) dengan harga ini. Beberapa buku langsung saya bayar, dan saya masuke dalam ransel besar yang memang sudah saya siapkan dari rumah.
Perburuanpun dilanjutkan ke stan lain.
Tak jauh saya berjalan dari stan tadi, sebuah keranjang besar berisi banyak buku di salah satu stan  menarik perhatian saya.
Rp. 2.500,-
Wow !!! Buku baru dengan harga dua ribu lima ratus ? Tak menunda waktu, 8 buku langsung saya pilih.  Ternyata buku cerita anak yang merupakan seri pengamalan nilai-nilai Pancasila. Saya senang dengan cerita-cerita yang berisi pesan-pesan moral. Saya jarang membelikan anak-anak saya buku-buku yang menceritakan makhluk-makhluk khayalan. Walaupun saya tidak melarangnya sama sekali.
Tak jauh dari stan itu, terlihat sebuah kotak besar berisi ratusan buku dikelilingi banyak pengunjung. Penasaran, saya pun berusaha mengintip dari belakang orang-orang yang berebutan. Di atas kotak besar berisi buku, tergantung label :
Discount 90 %
Pantas saja mereka berebutan. Saya pun langsung ikut berdesakan untuk memilih buku dengan potongan besar-besaran itu. Ah, sayang…..tak ada buku yang sesuai dengan minat saya maupun anak-anak. Terpaksa, dengan berat hati stan itu saya tinggalkan.
Setelah tas ransel plus sebuah kantong plastik besar penuh terisi buku “obralan”, saya pun memutuskan untuk mengakhiri perburuan saya.
Terima kasih banyak panitia….. Saya dapat berhemat baaanyaaaaaak……….. sekali dari pameran seperti ini. Sampai jumpa tahun depan

Selasa, 14 Februari 2012

SALMA MULAI BERBISNIS

PENTINGNYA TANYA JAWAB TENTANG PENDIDIKAN


PENTINGNYA TANYA JAWAB TENTANG PENDIDIKAN

Masalah pendidikan, merupakan masalah yang tidak pernah ada habisnya untuk dibahas dan dipertanyakan oleh para orang tua. Saya yakin, semua orang tua pasti menginginkan yang terbaik untuk masa depan anaknya melalui pendidikan yang terbaik pula.
Bersyukur kini sudah banyak sekali forum-forum diskusi dimana para orang tua dapat mencari informasi sebanyak-banyaknya, juga bertanya selengkap-lengkapnya pada para nara sumber bidang pendidikan yang diundang.
Salah satu forum diskusi yang pernah saya hadiri adalah Bined ke-2 yang diadakan di Pacific Place Jakarta. Kreshna Aditya (inisiator utama forum ini) bersama rekan-rekannya telah mampu menciptakan forum khusus tempat bertemunya para pemerhati pendidikan,juga para pengajar, dan orang tua. Disini tersebar ide dan inspirasi tentang pendidikan dari nara sumber kepada seluruh masyarakat. Tanpa forum-forum seperti ini, mungkin ide dan inspirasi itu hanya sampai kepada mereka-mereka yang aktif membaca media atau mencari melalui internet.
Terus terang, saat mendengarkan ide-ide dan inspirasi hebat mereka, saya berpikir…..bagaimana caranya supaya forum seperti  ini bisa sampai ke lingkungan saya ?
Untuk sebagian besar ibu-ibu yang aktivitas sehari-harinya sibuk  mengurus keluarga, termasuk mengantar jemput anak ke sekolah, tentu sulit menyediakan waktu khusus untuk menghadiri forum-forum seperi ini yang biasanya diadakan di pusat kota.
Padahal saya yakin, jika semua ibu di Indonesia ini selalu mengikuti perkembangan pengetahuan di bidang pendidikan anak, insya Allah Indonesia akan lebih baik lagi.
Saya tahu, tak mungkin bagi saya mengadakan acara besar seperti di Pacific Place itu. Untuk mengundang para nara sumber, tentu saya juga harus memikirkan biaya operasionalnya yang tidak sedikit.  Rekan saya pernah mencoba, mengadakan acara semacam seminar dengan mengundang seorang tokoh ternama. Tujuannya sangat mulia, yaitu agar ibu-ibu bisa mendapatkan informasi terbaru yang dapat diterapkan kelak di dalam keluarganya. Tapi karena biaya operasional cukup tinggi, terpaksa acaranya tidak gratis. Setiap  peserta harus membeli undangan. Apa mau dikata, banyak ibu-ibu yang pasif menanggapinya.
Beruntung, salah seorang saudara saya adalah pemerhati pendidikan yang sangat aktif di Jawa Timur. Beliau, Sulistyanto Soejoso adalah anggota Dewan Pendidikan Jatim, pemangku kuliah Cokroaminoto untuk Kebangsaan dan Demokrasi,  Pemangku kuliah Bung Karno untuk Kebangsaan dan Teknologi, penasehat Asosiasi Sekolah Rumah dan Pendidikan Alternatif (ASAH PENA) Jatim, Aktifis Dewan Kota Surabaya, Insiator Asosiasi Klub Seni Bonsai Indonesia (AKSISAIN), Pembicara bidang Pendidikan, Kewirausahaan dan Lingkungan Hidup.

Nah, tanggal 7 Februari lalu, beliau berada di Jakarta untuk keperluan keluaga. Tak mau kehilangan kesempatan, saya pun segera menghubungi beliau, mohon kesediaannya untuk mampir  ke tempat les saya, sebelum menuju Bandara Soekarno Hatta saat akan pulang ke Surabaya. Saya meminta beliau untuk memberikan kesempatan kepada ibu-ibu orang tua murid untuk  menanyakan apa saja hal-hal yang berhubungan dengan pendidikan.
Alhamdulillah dan atas kebaikan hati beliau, acara bincang-bincang pendidikan di tempat yang sederhana itu, berlangsung seru. Berikut ini beberapa masalah sempat kami perbincangkan bersama Bapak Sulistyanto sebagai nara sumber :

1.  Peran keluarga, terutama ibu, untuk masa depan anak. Jangan pernah berpikir, bahwa dengan mengirimkan anak ke sekolah yang hebat (baca:mahal) sama artinya kita sudah memberikan yang terbaik untuk masa depan anak. Bahkan, menurutnya, dengan mengirimkan anak ke sekolah yang jadwal belajarnya dari pukul 6 pagi sampai jam 4, sama halnya kita telah merenggut hak anak untuk berlama-lama menikmati kebersamaannya dengan ibunya.

2. Untuk mencegah anak berlama-lama menikmati harinya hanya di depan komputer, tv, handphone, sebaiknya bicarakan bersama anak itu sendiri. Diskusikan, jam berapa sebaiknya ia boleh bermain dengan benda-benda itu, dan untuk waktu berapa lama. Peraturan yang dibuat bersama, harus ditepati baik oleh anak maupun orang tua. Menurut Bapak Sulistyanto yang memiliki seorang putra dan seorang putri yang juga bergerak di bidang pendidikan, tidak mungkin kita melarang anak untuk sama sekali tidak mengenal peralatan-peralatan canggih itu. Anak tidak akan dapat mengikuti perkembangan zaman kalau pengetahuannya sangat minim.

3. Mengenai tambahan pelajaran di luar jam sekolah, Bapak Sulistyanto yang pernah memiliki sebuah lembaga bantuan belajar dengan jumlah siswa mencapai 12 ribu inipun tidak menyetujui orang tua yang mendaftarkan les hanya karena ingin terbebas dari tugas membantu PR sekolah. Ketika seorang ibu menanyakan, apakah salah, jika ia mengirimkan anaknya untuk mengikuti sebuah kursus, beliau menjawab,”Semua itu tergantung kesediaan anaknya. Juga tergantung maksud dan tujuan dari orang tuanya.”. Menurutnya, jika orang tua tujuannya hanya supaya ia tidak perlu repot mengajari anaknya lagi, sebaiknya jangan. Tapi, kalau memang atas permintaan anak, dan memang orang tuanya merasa tidak menguasai bidang itu (misalnya bahasa Inggris), itu boleh saja.

4. Menyikapi banyaknya materi yang harus dipelajari anak-anak sekolah pada zaman sekarang, beliau hanya menganjurkan kita para orang tua, guru dan semua yang terlibat dalam proses pendidikan, berusaha memberikan suasana belajar yang menyenangkan pada anak-anak. Berikan motivasi belajar kepada anak, agar mereka menjalankan semua proses belajar ini dengan semangat.
Pukul 12 siang, acara pun terpaksa ditutup karena ibu-ibu harus bertugas kembali, yaitu mengantar jemput anak dari sekolah.
Sebagai penutup, beliau tak lupa mengingatkan betapa pentingnya peran seorang ibu untuk masa depan anaknya.
Karena masih banyak pertanyaan yang sebenarnya ingin diajukan, kami pun meminta kesediaan nara sumber kami untuk mampir kembali ke tempat kami, saat beliau berkunjung ke Jakarta. Terima kasih Bapak Sulistyanto, atas kesediaannya berbagi ilmu dengan kami……

Sabtu, 11 Februari 2012

JANGAN TERJEBAK DALAM BISNIS PENDIDIKAN


JANGAN TERJEBAK DALAM BISNIS PENDIDIKAN

Pada tanggal 27 Juli 2011 lalu saya mendapat kesempatan menghadiri acara “bincang edukasi” di gedung Pacific Place Jakarta. Inisiator utama acara ini adalah Kreshna Aditya yang aktif bergerak di bidang pendidikan. Para pemerhati pendidikan berkumpul untuk saling berbagi ide dan inspirasi dalam bidang pendidikan.
Salah satu nara sumber, Wiwiet Mardiati, mengangkat tema tentang pentingnya peran orang tua dalam pendidikan anak. Namun sangat disayangkan, orang tua sekarang hanya menjadi konsumen dari maraknya bisnis di bidang pendidikan. Sekolah-sekolah swasta pun bermunculan dari mulai yang “tarifnya” biasa saja, sampai super mahal. Para orang tua berlomba-lomba mengirimkan putra putri mereka di sekolah-sekolah bergengsi (baca : mahal), sampai melupakan bahwa keluarga adalah tempat putra putri mereka seharusnya mendapat pendidikan yang paling utama.

Saya jadi teringat pengalaman pribadi saya pada sekitar tahun 2002-2003.
Dulu, saya pun termasuk ke dalam kelompok yang sempat dibuat lelah oleh dunia bisnis di bidang pendidikan ini. Kami merasa bingung ketika harus memilih sekolah dasar yang tepat untuk anak pertama kami. Ibu-ibu dibuat panik dengan gencarnya informasi tentang sekolah dasar swasta yang bagus. Brosur-brosur dibuat dengan sangat sempurna, dipenuhi dengan gambar-gambar kegiatan rutin yang mereka lakukan. Ada sekolah yang dilengkapi dengan les tari,  melukis, komputer,  sempoa, bahasa Inggris, dll. Tak lupa, kami pun menanyakan lamanya kegiatan belajar setiap hari.  Semakin lama belajar  (anak pulang sore) semakin hebatlah sekolah itu (menurut kami).

Bagaimana dengan sekolah dasar negeri ? Wah, itu bukan pilihan yang  tepat saat itu.   

Dia kan ingin yang gratis,” begitu komentar seorang ibu kepada temannya, saat mereka membicarakan tentang  ibu lain yang memutuskan memilih SD negeri untuk putrinya. Memang saat itu sekolah negeri tidak dikenai pungutan biaya apapun.

Akhirnya, kami pun mendaftarkan putra putri kami ke sebuah sekolah swasta Islam yang paling bagus di lingkungan sekitar kami. Dan kebetulan juga memang anak kami rata-rata belum mencapai usia 7 tahun. Umumnya, sekolah dasar negeri mengutamakan anak-anak yang usianya sudah mencapai 7 tahun.
Saat itu,  saya merasa sudah melakukan yang terbaik untuk putra saya, karena saya sudah menyekolahkan dia di sekolah yang cukup mahal.

 Tapi………………..
itu hanya berlaku untuk anak pertama saya lho. Untuk anak kedua dan ketiga, saya pun tak berani lagi mendahulukan kata-kata gengsi. Perkembangan bisnis di dunia pendidikan semakin marak. Sekolah-sekolah swasta baru, terus bermunculan. Dan harganya pun….semakin WOW ! Bahkan masa pendaftaran siswa baru, sudah dibuka sejak awal awal tahun (ketika semester 2 baru dimulai). Jauh sebelum sekolah dasar negeri membuka pendaftarannya Pendaftaran pun dibagi ke dalam beberapa gelombang penerimaan. Semakin cepat kita mendaftar, semakin kecil biaya yang harus kita keluarkan. Otomatis, kalau kita terlambat mendaftar, uang yang harus kita keuarkan pun lebih besar. Banyak juga ibu-ibu yang panik, dan terjebak dalam permainan bisnis di bidang pendidikan. Dan kepanikan mulai meningkat, jika banyak rekan mereka yang sudah membeli formulir terlebih dahulu.   

Semakin mahal, semakin bergengsi. Kami terjebak dalam persaingan bisnis pendidikan.  

Bersyukur, untuk putri kedua ini, kami mulai menyadari bahwa sehebat  apapun sekolah, anak tidak akan berhasil baik tanpa dukugan keluarga di rumah.  Meskipun anak berada di sekolah sampai sore hari, bukan merupakan jaminan bahwa anak pasti akan berhasil. Setiap anak berbeda. Itu yang saya rasakan. Putra pertama saya, meskipun pulang sekolah menjelang malam setap harinya,  ia menjalaninya dengan sangat  fun. Berbeda dengan putri kedua saya. Pulang sore, membuat ia merasa sangat tidak nyaman.
Sebagai orang tua, kami hanya tinggal mendukung, sesuai dengan minat mereka. Namun tentu saja semua harus dilakukan berdasarkan ilmu. Bukan lagi masalah gengsi. Yang terpenting, mereka harus mendapatkan kenyamanan saat mereka berada di rumah bersama kita, orang tua atau wali mereka.
Mudah-mudahan kita para ibu  (terutama saya pribadi) dapat menjalankan semuanya dengan tepat, sesaui dengan ilmu  yang sudah diajarkan  Alah SWT kepada kita. Amin…………………..

Sabtu, 14 Januari 2012

HAVE FUN SAMBIL BELAJAR MEMBATIK DI MUSEUM TEKSTIL



Pada masa liburan semester ganjil lalu, beberapa pengajar  dan siswa kelas 6 SD  SUCCESS Fun English Class  berkesempatan mengunjungi museum Tekstil yang beralamat di Jl. K.S.  TUBUN No. 2 – 4 Jakarta Barat 11420.
Judul  perjalanan saat itu, pokoknya kami inin have fun di museum tekstil.
Tepat pukul 7.30 pagi kami meninggalkan tempat les.  Rencana awal, kami ingin menggunakan  bus way supaya lebih aman. Tapi, ternyata akan lebih mudah jika kami menggunakan bis kecil kopaja yang akan mengantarkan kami langsung kedekat  lokasi  museum.
Kami pun menggunakan  kopaja 88 dari terminal Kalideres. Perjalanan terasa nyaman, walau sempat diselingi sedikit kepanikan. Bang supir beberapa kali tertidur ! Lalu lintas yang cukup padat, membuat bang supir tertidur beberapa kali saat  laju kendaraan berhenti total. Kami pun berpura-pura bercanda dengan suara agak diperkeras, supaya ia terbangun.    
Sampai ditempat, kami pun segera turun. Kami sempat merasa  heran saat itu.  Meskipun penumpang tak banyak, tapi beberapa orang tampak berdesakan dengan kami di pintu keluar. Ternyata, mereka kelompok pencopet. Alhamdulillah semua handphone  selamat, walau salah seorang pengajar sempat merasa kantung celananya diraba-raba pencopet itu.  Mereka gagal kali ini.
Masuk ke lokasi Museum Tekstil terasa sangat nyaman, meskipun bangunan ini berada di tengah kepadatan jalan raya dan pedagang kaki lima yang memadati tepi jalan.
BERIKUT INI FOTO-FOTO KAMI YANG HAVING  FUN SELAMA DI MUSEUM
Pepohonan tua dan rindang membuat suasana taman museum terasa sejuk

  



Bagian depan Museum tekstil
Para pengajar dan  siswa berpose sebentar. Semua merasa sangat gembira saat sampai di museum ini. Tapi, kami para guru sempat agak mati gaya sesaat. Saat tiba, seorang petugas kebersihan museum keluar dari dalam gedung. Alamaaaak….. seragamnya mirip dengan seragam baru kami. Coklat.  Saat papasan, kami hanya bisa tersenyum pasrah. Ya sudahlah…….. Sampai pulang, saya tidak melihat pegawai itu lagi. Kasihan…..jangan-jangan dia  terpaksa bersembunyi sampai kami pulang.



        


Di museum tekstil kami mengunjungi 3 lokasi terpisah. Yang pertama, GALERI BATIK,  yang kedua TAMAN PEWARNA ALAM, dan ketiga tempat PELATIHAN.





GALERI BATIK





Contoh karya seni batik di atas sebuah topeng.




batik  pagi sore 

Jenis batik  pagi sore. Yang dipamerkan dalam galeri batik. Kain ini dapat digunakan pada pagi hari (bagian yang berwarna terang dilipat di bagian luar, dan bagian yang gelap di dalam) ) dan pada sore hari digunakan sebaliknya.  Menurut pemandu museum, kain ini digunakan pada zaman ketika kain masih sangat jarang di zaman penjajahan Jepang.


 Salah satu lukisan 3 dimensi yang dipamerkan, menggambarkan kain batik dengan motif khusus untuk  Sultan dan para kerabatnya. Dikenal dengan batik Parang rusak


Sebuah penggabungan antara karya seni dan matematika. Motifnya berbentuk segitiga, diagonal dan bentuk-bentuk lain yang kita pelajari di pelajaran matematika


Kain batik dengan motif Sekar Jagat , yang berarti motif bermacam-macam bunga dari seluruh jagat.
Selain digunakan untuk pakaian, kain batik pun dapat dimanfaatkan sebagai  penghias ruangan.


Taman pewarna alam
Di bagian lahan ini, ditanam bermacam-macam tanaman yangdapat digunakan sebagai pewarna alami.  Beberapa diantaranya adalah :
1. Kayu seucang, jati Belanda untuk pewarna merah
2. Kayu jambal, pinang,  untuk pewarna coklat kehitaman
3. Nangka, temulawak untuk pewarna kuning.
4. Indigo untuk pewarna biru.
5. Jambu mede, Suji  untuk pewarna hijau.

6. Gelinggem untuk pewarna oranye.
7. Jati emas (bagian daunnya yang masih muda) untuk pewarna merah hati.

Tanaman pinang/jambe  yang menghasilkan warna coklat kehitaman



Tanaman lidah mertua, yang dapat menghasilkan serat kain


Di tengah kepadatan dan kebisingan kota Jakarta, masih ada  tempat yang sangat nyaman seperti ini



ACARA PUNCAK : BELAJAR MEMBATIK

Di museum tekstil  ini kita juga dapat belajar membatik. Paket harganya adalah Rp. 35.000,- / orang. Karena kami sudah pesan tempat lebih dahulu sehari sebelumnya, peralatan pun sudah  disiapkan oleh pengurus museum.
Setelah diberi sedikit pengarahan, anak-anak pun mulai membatik. Beberapa pembimbing membantu mereka
Karena cairan yang digunakan sangat panas, anak-anak diminta berhati-hati. Kulit yang terkena  tetesan cairan, harus segera dioleskan salep Bioplacenton supaya tidak luka






 Setiap siswa diberi kain putih yang telah diberi pola oleh pelatih membatik.  Motif yang diberikan berupa gambar kupu-kupu, bunga, pesawat terbang, dll.
Acara belajar membatik yang disediakan museum tekstil ini menjadi suatu pengalaman yang sangat bermanfaat bagi para siswa. Mereka tidak hanya mengenal  jenis-jenis batik budaya Indonesia, tapi juga sekaligus belajar cara membuat batik secara sederhana.
Hasil karya para siswa setelah berusaha keras mengikuti garis-garis pola dengan menggunakan cairan.


























Sebelum dicelup ke dalam cairan pewarna, kain putih yang sudah dihias diberi lapisan lilin di bagian pinggirnya agar tetap berwarna putih


















Tahap pewarnaan. Anak-anak sangat bersemangat pada tahap ini. Mereka dapat memilih warna yang mereka mau. Merah, biru, ungu ? Begitu pertanyaan bapak pelatih. Ada bak yang berisi pewarna merah, juga biru. Untuk ungu, kain akan dicelupkan ke dalam bak merah, kemudian biru









Kain yang telah dicelupkan ke dalam pewarna, direbus selama beberapa saat. Tahapan ini berfungsi untuk menghilangkan lapisan lilin yang menurtup kain





Setelah direbus sebentar, lapisan lilinpun hilang. Kain dimasukkan ke dalam air dingin, lalu diangkat
 




 



















Proses akhir, kain dibilas dalam air bersih. Air dalam ember tetap bening, menandakan pewarna tidak luntur. Lalu di jemur 



Saputangan batik dengan motif cantik karya para siswa



 Sepanjang perjalanan pulang, mereka terlihat sangat puas dengan pengalaman baru mereka. Belajar membatik di museum tekstil.