JANGAN TERJEBAK DALAM BISNIS PENDIDIKAN
Pada tanggal 27 Juli 2011 lalu saya mendapat kesempatan menghadiri acara “bincang edukasi” di gedung Pacific Place Jakarta. Inisiator utama acara ini adalah Kreshna Aditya yang aktif bergerak di bidang pendidikan. Para pemerhati pendidikan berkumpul untuk saling berbagi ide dan inspirasi dalam bidang pendidikan.
Salah satu nara sumber, Wiwiet Mardiati, mengangkat tema tentang pentingnya peran orang tua dalam pendidikan anak. Namun sangat disayangkan, orang tua sekarang hanya menjadi konsumen dari maraknya bisnis di bidang pendidikan. Sekolah-sekolah swasta pun bermunculan dari mulai yang “tarifnya” biasa saja, sampai super mahal. Para orang tua berlomba-lomba mengirimkan putra putri mereka di sekolah-sekolah bergengsi (baca : mahal), sampai melupakan bahwa keluarga adalah tempat putra putri mereka seharusnya mendapat pendidikan yang paling utama.
Saya jadi teringat pengalaman pribadi saya pada sekitar tahun 2002-2003.
Dulu, saya pun termasuk ke dalam kelompok yang sempat dibuat lelah oleh dunia bisnis di bidang pendidikan ini. Kami merasa bingung ketika harus memilih sekolah dasar yang tepat untuk anak pertama kami. Ibu-ibu dibuat panik dengan gencarnya informasi tentang sekolah dasar swasta yang bagus. Brosur-brosur dibuat dengan sangat sempurna, dipenuhi dengan gambar-gambar kegiatan rutin yang mereka lakukan. Ada sekolah yang dilengkapi dengan les tari, melukis, komputer, sempoa, bahasa Inggris, dll. Tak lupa, kami pun menanyakan lamanya kegiatan belajar setiap hari. Semakin lama belajar (anak pulang sore) semakin hebatlah sekolah itu (menurut kami).
Bagaimana dengan sekolah dasar negeri ? Wah, itu bukan pilihan yang tepat saat itu.
“Dia kan ingin yang gratis,” begitu komentar seorang ibu kepada temannya, saat mereka membicarakan tentang ibu lain yang memutuskan memilih SD negeri untuk putrinya. Memang saat itu sekolah negeri tidak dikenai pungutan biaya apapun.
Akhirnya, kami pun mendaftarkan putra putri kami ke sebuah sekolah swasta Islam yang paling bagus di lingkungan sekitar kami. Dan kebetulan juga memang anak kami rata-rata belum mencapai usia 7 tahun. Umumnya, sekolah dasar negeri mengutamakan anak-anak yang usianya sudah mencapai 7 tahun.
Saat itu, saya merasa sudah melakukan yang terbaik untuk putra saya, karena saya sudah menyekolahkan dia di sekolah yang cukup mahal.
Tapi………………..
itu hanya berlaku untuk anak pertama saya lho. Untuk anak kedua dan ketiga, saya pun tak berani lagi mendahulukan kata-kata gengsi. Perkembangan bisnis di dunia pendidikan semakin marak. Sekolah-sekolah swasta baru, terus bermunculan. Dan harganya pun….semakin WOW ! Bahkan masa pendaftaran siswa baru, sudah dibuka sejak awal awal tahun (ketika semester 2 baru dimulai). Jauh sebelum sekolah dasar negeri membuka pendaftarannya Pendaftaran pun dibagi ke dalam beberapa gelombang penerimaan. Semakin cepat kita mendaftar, semakin kecil biaya yang harus kita keluarkan. Otomatis, kalau kita terlambat mendaftar, uang yang harus kita keuarkan pun lebih besar. Banyak juga ibu-ibu yang panik, dan terjebak dalam permainan bisnis di bidang pendidikan. Dan kepanikan mulai meningkat, jika banyak rekan mereka yang sudah membeli formulir terlebih dahulu.
Semakin mahal, semakin bergengsi. Kami terjebak dalam persaingan bisnis pendidikan.
Bersyukur, untuk putri kedua ini, kami mulai menyadari bahwa sehebat apapun sekolah, anak tidak akan berhasil baik tanpa dukugan keluarga di rumah. Meskipun anak berada di sekolah sampai sore hari, bukan merupakan jaminan bahwa anak pasti akan berhasil. Setiap anak berbeda. Itu yang saya rasakan. Putra pertama saya, meskipun pulang sekolah menjelang malam setap harinya, ia menjalaninya dengan sangat fun. Berbeda dengan putri kedua saya. Pulang sore, membuat ia merasa sangat tidak nyaman.
Sebagai orang tua, kami hanya tinggal mendukung, sesuai dengan minat mereka. Namun tentu saja semua harus dilakukan berdasarkan ilmu. Bukan lagi masalah gengsi. Yang terpenting, mereka harus mendapatkan kenyamanan saat mereka berada di rumah bersama kita, orang tua atau wali mereka.
Mudah-mudahan kita para ibu (terutama saya pribadi) dapat menjalankan semuanya dengan tepat, sesaui dengan ilmu yang sudah diajarkan Alah SWT kepada kita. Amin…………………..
Tidak ada komentar:
Posting Komentar