PENTINGNYA TANYA JAWAB TENTANG PENDIDIKAN
Masalah pendidikan, merupakan masalah yang tidak pernah ada habisnya untuk dibahas dan dipertanyakan oleh para orang tua. Saya yakin, semua orang tua pasti menginginkan yang terbaik untuk masa depan anaknya melalui pendidikan yang terbaik pula.
Bersyukur kini sudah banyak sekali forum-forum diskusi dimana para orang tua dapat mencari informasi sebanyak-banyaknya, juga bertanya selengkap-lengkapnya pada para nara sumber bidang pendidikan yang diundang.
Salah satu forum diskusi yang pernah saya hadiri adalah Bined ke-2 yang diadakan di Pacific Place Jakarta. Kreshna Aditya (inisiator utama forum ini) bersama rekan-rekannya telah mampu menciptakan forum khusus tempat bertemunya para pemerhati pendidikan,juga para pengajar, dan orang tua. Disini tersebar ide dan inspirasi tentang pendidikan dari nara sumber kepada seluruh masyarakat. Tanpa forum-forum seperti ini, mungkin ide dan inspirasi itu hanya sampai kepada mereka-mereka yang aktif membaca media atau mencari melalui internet.
Terus terang, saat mendengarkan ide-ide dan inspirasi hebat mereka, saya berpikir…..bagaimana caranya supaya forum seperti ini bisa sampai ke lingkungan saya ?
Untuk sebagian besar ibu-ibu yang aktivitas sehari-harinya sibuk mengurus keluarga, termasuk mengantar jemput anak ke sekolah, tentu sulit menyediakan waktu khusus untuk menghadiri forum-forum seperi ini yang biasanya diadakan di pusat kota.
Padahal saya yakin, jika semua ibu di Indonesia ini selalu mengikuti perkembangan pengetahuan di bidang pendidikan anak, insya Allah Indonesia akan lebih baik lagi.
Saya tahu, tak mungkin bagi saya mengadakan acara besar seperti di Pacific Place itu. Untuk mengundang para nara sumber, tentu saya juga harus memikirkan biaya operasionalnya yang tidak sedikit. Rekan saya pernah mencoba, mengadakan acara semacam seminar dengan mengundang seorang tokoh ternama. Tujuannya sangat mulia, yaitu agar ibu-ibu bisa mendapatkan informasi terbaru yang dapat diterapkan kelak di dalam keluarganya. Tapi karena biaya operasional cukup tinggi, terpaksa acaranya tidak gratis. Setiap peserta harus membeli undangan. Apa mau dikata, banyak ibu-ibu yang pasif menanggapinya.
Beruntung, salah seorang saudara saya adalah pemerhati pendidikan yang sangat aktif di Jawa Timur. Beliau, Sulistyanto Soejoso adalah anggota Dewan Pendidikan Jatim, pemangku kuliah Cokroaminoto untuk Kebangsaan dan Demokrasi, Pemangku kuliah Bung Karno untuk Kebangsaan dan Teknologi, penasehat Asosiasi Sekolah Rumah dan Pendidikan Alternatif (ASAH PENA) Jatim, Aktifis Dewan Kota Surabaya, Insiator Asosiasi Klub Seni Bonsai Indonesia (AKSISAIN), Pembicara bidang Pendidikan, Kewirausahaan dan Lingkungan Hidup.
Nah, tanggal 7 Februari lalu, beliau berada di Jakarta untuk keperluan keluaga. Tak mau kehilangan kesempatan, saya pun segera menghubungi beliau, mohon kesediaannya untuk mampir ke tempat les saya, sebelum menuju Bandara Soekarno Hatta saat akan pulang ke Surabaya. Saya meminta beliau untuk memberikan kesempatan kepada ibu-ibu orang tua murid untuk menanyakan apa saja hal-hal yang berhubungan dengan pendidikan.
Alhamdulillah dan atas kebaikan hati beliau, acara bincang-bincang pendidikan di tempat yang sederhana itu, berlangsung seru. Berikut ini beberapa masalah sempat kami perbincangkan bersama Bapak Sulistyanto sebagai nara sumber :
1. Peran keluarga, terutama ibu, untuk masa depan anak. Jangan pernah berpikir, bahwa dengan mengirimkan anak ke sekolah yang hebat (baca:mahal) sama artinya kita sudah memberikan yang terbaik untuk masa depan anak. Bahkan, menurutnya, dengan mengirimkan anak ke sekolah yang jadwal belajarnya dari pukul 6 pagi sampai jam 4, sama halnya kita telah merenggut hak anak untuk berlama-lama menikmati kebersamaannya dengan ibunya.
2. Untuk mencegah anak berlama-lama menikmati harinya hanya di depan komputer, tv, handphone, sebaiknya bicarakan bersama anak itu sendiri. Diskusikan, jam berapa sebaiknya ia boleh bermain dengan benda-benda itu, dan untuk waktu berapa lama. Peraturan yang dibuat bersama, harus ditepati baik oleh anak maupun orang tua. Menurut Bapak Sulistyanto yang memiliki seorang putra dan seorang putri yang juga bergerak di bidang pendidikan, tidak mungkin kita melarang anak untuk sama sekali tidak mengenal peralatan-peralatan canggih itu. Anak tidak akan dapat mengikuti perkembangan zaman kalau pengetahuannya sangat minim.
3. Mengenai tambahan pelajaran di luar jam sekolah, Bapak Sulistyanto yang pernah memiliki sebuah lembaga bantuan belajar dengan jumlah siswa mencapai 12 ribu inipun tidak menyetujui orang tua yang mendaftarkan les hanya karena ingin terbebas dari tugas membantu PR sekolah. Ketika seorang ibu menanyakan, apakah salah, jika ia mengirimkan anaknya untuk mengikuti sebuah kursus, beliau menjawab,”Semua itu tergantung kesediaan anaknya. Juga tergantung maksud dan tujuan dari orang tuanya.”. Menurutnya, jika orang tua tujuannya hanya supaya ia tidak perlu repot mengajari anaknya lagi, sebaiknya jangan. Tapi, kalau memang atas permintaan anak, dan memang orang tuanya merasa tidak menguasai bidang itu (misalnya bahasa Inggris), itu boleh saja.
4. Menyikapi banyaknya materi yang harus dipelajari anak-anak sekolah pada zaman sekarang, beliau hanya menganjurkan kita para orang tua, guru dan semua yang terlibat dalam proses pendidikan, berusaha memberikan suasana belajar yang menyenangkan pada anak-anak. Berikan motivasi belajar kepada anak, agar mereka menjalankan semua proses belajar ini dengan semangat.
Pukul 12 siang, acara pun terpaksa ditutup karena ibu-ibu harus bertugas kembali, yaitu mengantar jemput anak dari sekolah.
Sebagai penutup, beliau tak lupa mengingatkan betapa pentingnya peran seorang ibu untuk masa depan anaknya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar