Selasa, 14 Februari 2012
PENTINGNYA TANYA JAWAB TENTANG PENDIDIKAN
PENTINGNYA TANYA JAWAB TENTANG PENDIDIKAN
Masalah pendidikan, merupakan masalah yang tidak pernah ada habisnya untuk dibahas dan dipertanyakan oleh para orang tua. Saya yakin, semua orang tua pasti menginginkan yang terbaik untuk masa depan anaknya melalui pendidikan yang terbaik pula.
Bersyukur kini sudah banyak sekali forum-forum diskusi dimana para orang tua dapat mencari informasi sebanyak-banyaknya, juga bertanya selengkap-lengkapnya pada para nara sumber bidang pendidikan yang diundang.
Salah satu forum diskusi yang pernah saya hadiri adalah Bined ke-2 yang diadakan di Pacific Place Jakarta. Kreshna Aditya (inisiator utama forum ini) bersama rekan-rekannya telah mampu menciptakan forum khusus tempat bertemunya para pemerhati pendidikan,juga para pengajar, dan orang tua. Disini tersebar ide dan inspirasi tentang pendidikan dari nara sumber kepada seluruh masyarakat. Tanpa forum-forum seperti ini, mungkin ide dan inspirasi itu hanya sampai kepada mereka-mereka yang aktif membaca media atau mencari melalui internet.
Terus terang, saat mendengarkan ide-ide dan inspirasi hebat mereka, saya berpikir…..bagaimana caranya supaya forum seperti ini bisa sampai ke lingkungan saya ?
Untuk sebagian besar ibu-ibu yang aktivitas sehari-harinya sibuk mengurus keluarga, termasuk mengantar jemput anak ke sekolah, tentu sulit menyediakan waktu khusus untuk menghadiri forum-forum seperi ini yang biasanya diadakan di pusat kota.
Padahal saya yakin, jika semua ibu di Indonesia ini selalu mengikuti perkembangan pengetahuan di bidang pendidikan anak, insya Allah Indonesia akan lebih baik lagi.
Saya tahu, tak mungkin bagi saya mengadakan acara besar seperti di Pacific Place itu. Untuk mengundang para nara sumber, tentu saya juga harus memikirkan biaya operasionalnya yang tidak sedikit. Rekan saya pernah mencoba, mengadakan acara semacam seminar dengan mengundang seorang tokoh ternama. Tujuannya sangat mulia, yaitu agar ibu-ibu bisa mendapatkan informasi terbaru yang dapat diterapkan kelak di dalam keluarganya. Tapi karena biaya operasional cukup tinggi, terpaksa acaranya tidak gratis. Setiap peserta harus membeli undangan. Apa mau dikata, banyak ibu-ibu yang pasif menanggapinya.
Beruntung, salah seorang saudara saya adalah pemerhati pendidikan yang sangat aktif di Jawa Timur. Beliau, Sulistyanto Soejoso adalah anggota Dewan Pendidikan Jatim, pemangku kuliah Cokroaminoto untuk Kebangsaan dan Demokrasi, Pemangku kuliah Bung Karno untuk Kebangsaan dan Teknologi, penasehat Asosiasi Sekolah Rumah dan Pendidikan Alternatif (ASAH PENA) Jatim, Aktifis Dewan Kota Surabaya, Insiator Asosiasi Klub Seni Bonsai Indonesia (AKSISAIN), Pembicara bidang Pendidikan, Kewirausahaan dan Lingkungan Hidup.
Nah, tanggal 7 Februari lalu, beliau berada di Jakarta untuk keperluan keluaga. Tak mau kehilangan kesempatan, saya pun segera menghubungi beliau, mohon kesediaannya untuk mampir ke tempat les saya, sebelum menuju Bandara Soekarno Hatta saat akan pulang ke Surabaya. Saya meminta beliau untuk memberikan kesempatan kepada ibu-ibu orang tua murid untuk menanyakan apa saja hal-hal yang berhubungan dengan pendidikan.
Alhamdulillah dan atas kebaikan hati beliau, acara bincang-bincang pendidikan di tempat yang sederhana itu, berlangsung seru. Berikut ini beberapa masalah sempat kami perbincangkan bersama Bapak Sulistyanto sebagai nara sumber :
1. Peran keluarga, terutama ibu, untuk masa depan anak. Jangan pernah berpikir, bahwa dengan mengirimkan anak ke sekolah yang hebat (baca:mahal) sama artinya kita sudah memberikan yang terbaik untuk masa depan anak. Bahkan, menurutnya, dengan mengirimkan anak ke sekolah yang jadwal belajarnya dari pukul 6 pagi sampai jam 4, sama halnya kita telah merenggut hak anak untuk berlama-lama menikmati kebersamaannya dengan ibunya.
2. Untuk mencegah anak berlama-lama menikmati harinya hanya di depan komputer, tv, handphone, sebaiknya bicarakan bersama anak itu sendiri. Diskusikan, jam berapa sebaiknya ia boleh bermain dengan benda-benda itu, dan untuk waktu berapa lama. Peraturan yang dibuat bersama, harus ditepati baik oleh anak maupun orang tua. Menurut Bapak Sulistyanto yang memiliki seorang putra dan seorang putri yang juga bergerak di bidang pendidikan, tidak mungkin kita melarang anak untuk sama sekali tidak mengenal peralatan-peralatan canggih itu. Anak tidak akan dapat mengikuti perkembangan zaman kalau pengetahuannya sangat minim.
3. Mengenai tambahan pelajaran di luar jam sekolah, Bapak Sulistyanto yang pernah memiliki sebuah lembaga bantuan belajar dengan jumlah siswa mencapai 12 ribu inipun tidak menyetujui orang tua yang mendaftarkan les hanya karena ingin terbebas dari tugas membantu PR sekolah. Ketika seorang ibu menanyakan, apakah salah, jika ia mengirimkan anaknya untuk mengikuti sebuah kursus, beliau menjawab,”Semua itu tergantung kesediaan anaknya. Juga tergantung maksud dan tujuan dari orang tuanya.”. Menurutnya, jika orang tua tujuannya hanya supaya ia tidak perlu repot mengajari anaknya lagi, sebaiknya jangan. Tapi, kalau memang atas permintaan anak, dan memang orang tuanya merasa tidak menguasai bidang itu (misalnya bahasa Inggris), itu boleh saja.
4. Menyikapi banyaknya materi yang harus dipelajari anak-anak sekolah pada zaman sekarang, beliau hanya menganjurkan kita para orang tua, guru dan semua yang terlibat dalam proses pendidikan, berusaha memberikan suasana belajar yang menyenangkan pada anak-anak. Berikan motivasi belajar kepada anak, agar mereka menjalankan semua proses belajar ini dengan semangat.
Pukul 12 siang, acara pun terpaksa ditutup karena ibu-ibu harus bertugas kembali, yaitu mengantar jemput anak dari sekolah.
Sebagai penutup, beliau tak lupa mengingatkan betapa pentingnya peran seorang ibu untuk masa depan anaknya.
Sabtu, 11 Februari 2012
JANGAN TERJEBAK DALAM BISNIS PENDIDIKAN
JANGAN TERJEBAK DALAM BISNIS PENDIDIKAN
Pada tanggal 27 Juli 2011 lalu saya mendapat kesempatan menghadiri acara “bincang edukasi” di gedung Pacific Place Jakarta. Inisiator utama acara ini adalah Kreshna Aditya yang aktif bergerak di bidang pendidikan. Para pemerhati pendidikan berkumpul untuk saling berbagi ide dan inspirasi dalam bidang pendidikan.
Salah satu nara sumber, Wiwiet Mardiati, mengangkat tema tentang pentingnya peran orang tua dalam pendidikan anak. Namun sangat disayangkan, orang tua sekarang hanya menjadi konsumen dari maraknya bisnis di bidang pendidikan. Sekolah-sekolah swasta pun bermunculan dari mulai yang “tarifnya” biasa saja, sampai super mahal. Para orang tua berlomba-lomba mengirimkan putra putri mereka di sekolah-sekolah bergengsi (baca : mahal), sampai melupakan bahwa keluarga adalah tempat putra putri mereka seharusnya mendapat pendidikan yang paling utama.
Saya jadi teringat pengalaman pribadi saya pada sekitar tahun 2002-2003.
Dulu, saya pun termasuk ke dalam kelompok yang sempat dibuat lelah oleh dunia bisnis di bidang pendidikan ini. Kami merasa bingung ketika harus memilih sekolah dasar yang tepat untuk anak pertama kami. Ibu-ibu dibuat panik dengan gencarnya informasi tentang sekolah dasar swasta yang bagus. Brosur-brosur dibuat dengan sangat sempurna, dipenuhi dengan gambar-gambar kegiatan rutin yang mereka lakukan. Ada sekolah yang dilengkapi dengan les tari, melukis, komputer, sempoa, bahasa Inggris, dll. Tak lupa, kami pun menanyakan lamanya kegiatan belajar setiap hari. Semakin lama belajar (anak pulang sore) semakin hebatlah sekolah itu (menurut kami).
Bagaimana dengan sekolah dasar negeri ? Wah, itu bukan pilihan yang tepat saat itu.
“Dia kan ingin yang gratis,” begitu komentar seorang ibu kepada temannya, saat mereka membicarakan tentang ibu lain yang memutuskan memilih SD negeri untuk putrinya. Memang saat itu sekolah negeri tidak dikenai pungutan biaya apapun.
Akhirnya, kami pun mendaftarkan putra putri kami ke sebuah sekolah swasta Islam yang paling bagus di lingkungan sekitar kami. Dan kebetulan juga memang anak kami rata-rata belum mencapai usia 7 tahun. Umumnya, sekolah dasar negeri mengutamakan anak-anak yang usianya sudah mencapai 7 tahun.
Saat itu, saya merasa sudah melakukan yang terbaik untuk putra saya, karena saya sudah menyekolahkan dia di sekolah yang cukup mahal.
Tapi………………..
itu hanya berlaku untuk anak pertama saya lho. Untuk anak kedua dan ketiga, saya pun tak berani lagi mendahulukan kata-kata gengsi. Perkembangan bisnis di dunia pendidikan semakin marak. Sekolah-sekolah swasta baru, terus bermunculan. Dan harganya pun….semakin WOW ! Bahkan masa pendaftaran siswa baru, sudah dibuka sejak awal awal tahun (ketika semester 2 baru dimulai). Jauh sebelum sekolah dasar negeri membuka pendaftarannya Pendaftaran pun dibagi ke dalam beberapa gelombang penerimaan. Semakin cepat kita mendaftar, semakin kecil biaya yang harus kita keluarkan. Otomatis, kalau kita terlambat mendaftar, uang yang harus kita keuarkan pun lebih besar. Banyak juga ibu-ibu yang panik, dan terjebak dalam permainan bisnis di bidang pendidikan. Dan kepanikan mulai meningkat, jika banyak rekan mereka yang sudah membeli formulir terlebih dahulu.
Semakin mahal, semakin bergengsi. Kami terjebak dalam persaingan bisnis pendidikan.
Bersyukur, untuk putri kedua ini, kami mulai menyadari bahwa sehebat apapun sekolah, anak tidak akan berhasil baik tanpa dukugan keluarga di rumah. Meskipun anak berada di sekolah sampai sore hari, bukan merupakan jaminan bahwa anak pasti akan berhasil. Setiap anak berbeda. Itu yang saya rasakan. Putra pertama saya, meskipun pulang sekolah menjelang malam setap harinya, ia menjalaninya dengan sangat fun. Berbeda dengan putri kedua saya. Pulang sore, membuat ia merasa sangat tidak nyaman.
Sebagai orang tua, kami hanya tinggal mendukung, sesuai dengan minat mereka. Namun tentu saja semua harus dilakukan berdasarkan ilmu. Bukan lagi masalah gengsi. Yang terpenting, mereka harus mendapatkan kenyamanan saat mereka berada di rumah bersama kita, orang tua atau wali mereka.
Mudah-mudahan kita para ibu (terutama saya pribadi) dapat menjalankan semuanya dengan tepat, sesaui dengan ilmu yang sudah diajarkan Alah SWT kepada kita. Amin…………………..
Langganan:
Komentar (Atom)